Orang tua punya kelebihan berupa pengalaman. Mereka sudah melewati liku-liku perubahan fisik dan emosi pada masa remaja. Idealnya merekalah yg semestinya paling mampu kamu melalui liku-liku itu. Namun, kadang-kadang, orang tua tampaknya menjadi bagian dari problem – bukan solusinya. Misalnya, kamu mungkin menghadapi salah satu kesulitan berikut ini :
orang tua ku terus saja mengomeli aku
ayah atau ibuku pecandu narkoba atau alkohol
orang tuaku selalu saja bertengkar
orang tua ku sudah berpisah
Bagaimana aku bisa menghadapi omelan ?
Apakah sepertinya semua yang kamu lakukan tidak ada yg beres di mata orang tua mu? Apakah kamu merasa bahwa setiap gerak-gerikmu selalu dilihat dengan mikroskop – selalu diawasi dan di kritik tetapi tidak pernah lolos uji?
Mana yg paling sering kamu dengar?
kamarmu selalu berantakan
kamu terlalu banyak menonton TV.
Kamu tidur kemalaman
kamu selalu bangun kesiangan.
Memang, perintah dan omelan bisa menjengkelkan. Tetapi, coba pikirkan kebalikannya: seandainya kamu tidak pernah dinasihati atau didisiplin, tidakah kamu akan ragu apakah orang tuamu memedulikan kamu? (ibrani 12:8) Disiplin justru adalah bukti kasih orang tuamu. Alkitab mengatakan bahwa seorang Bapak akan menegur “putra yg padanya ia mendapatkan kesenangan” - Amsal 3:12.
Maka, kamu hendak nya bersyukur bahwa orang tuamu sangat peduli sehingga mau mendisiplinmu! Bagaimanapun juga, kamu masih muda dan relatif tidak berpengalaman. Cepat atau lambat, kamu perlu di koreksi. Tanpa bimbingan, kamu bisa dengan mudah di kendalikan “keinginan yang berkaitan dengan masa muda”. - 2 Timotius 2:22
Tapi Sakit Rasanya!
Tentu saja, “setiap disiplin pada saat diberikan tidak mendatangkan sukacita tetapi memedihkan hati”.(Ibrani 12:11) Hal ini khususnya demikian sewaktu kamu masih muda. Dan, ini tidak mengherankan! Kepribadian mu sedang dalam tahap-tahap perkembangan. Kamu masih bertumbuh menuju kedewasaan dan mencari jati dirimu. Jadi, kritik – sekalipun sudah dipikirkan masak2 dan disampaikan dengan ramah – bisa membuatmu kesal.
Reaksi ini bisa dimengerti , karena cara kamu memandang dirimu bisa dengan mudah dipengaruhi penilaian orang lain. Dan, pendapat orang tuamu khususnya sangat mempengaruhi harga dirimu. Jadi, ketika orang tuamu mengoreksi kamu atau mengeluh tentang cara kamu melakukan sesuatu kamu bisa amat kesal.
Haruskah kamu menyimpulkan bahwa apapun yg kamu lakukan tidak ada yg benar atau kamu gagal sama sekali hanya karena orang tuamu menunjukan berapa kelemahan mu?Tidak. Semua orang melakukan banyak kesalahan karena tidak sempurna.(pengkhotbah 7:20) Dan membuat kesalahan adalah bagian dari proses belajar.(ayub 6:24) Namun bagaimana jika orang tuamu sepertinya ngomel panjang lebar ketika kamu melakukan kesalahan tetapi tidak memuji ketika kamu melakukan yg benar? Itu bisa menyakitkan, tetapi tidak berarti kamu gagal total.
Mengapa mereka mengomel
Adakalanya orang tua mungkin kelihatannya terlalu kristis, bukan karena kamu melakukan kesalahan tertentu, melainkan karena suasana hatinya sedang buruk. Apakah pada hari itu ibumu banyak masalah? Apakah dia sedang berjuang melawan penyakit? Apakah dia sedang datang bulan?(klo yg ini jangan dia nggap serius heheh...) Maka, dia mungkin lebih gampang mencela kamu jika kamarmu tidak bersih dan rapi. Apakah ayahmu sedang frustasi karena masalah keuangan keluarga? Maka, ia mungkin berbicara tanpa di pikir “bagaikan dengan tikaman pedang”.(Amsal 12:18) Memang celaan yg tidak adil seperti itu menjengkelkan. Tetapi, ketimbang terus memikirkan ketidakadilan – yang hanya akan membuat mu makin kesal – cobalah abaikan kesalahan orang tuamu. Ingat, “kita semua seringkali tersandung. Jika seorang tidak tersandung dalam perkataan, ia adalah manusia sempurna”. - yakobus 3:2
Sebagai manusia yg tidak sempurna, orang tua juga bisa merasa kurang cakap. Malah, kegagalan mu bisa membuat mereka seolah-olah merekalah yg gagal. Sebagai contoh, seorang ibu mungkin mencela putri nya karena nilai rapor nya yg jelek. Tetapi, yg mungkin sebenarnya dipikirkan oleh sang ibu ialah, 'jangan-jangan saya bukan ibu yg baik karena tidak bisa membantu anak saya berhasil.'
Tetap Tenang Sewaktu di Omeli
apapun alasannya, pertanyaan nya adalah, bagaimana kamu bisa menghadapi omelan? Pertama-tama, berhati-hatilah agar tidak menimpali dengan marah. Amsal 17:27 mengatakan, “siapapun yg menahan perkataannya mempunyai pengetahuan, dan orang yang berdaya pengamatan mempunyai semangat yg tenang.” Bagaimana kamu bisa tetap memiliki “semangat yg tenang” sewaktu diomeli? Cobalah hal berikut:
Dengarkan. Daripada langsung membenarkan tindakan mu atau membela diri, coba tahan emosi mu dan dengarkan baik2 perkataan orang tuamu. Sang murid yakobus memberi tahu orang2 Kristen agar “cepat mendengar, lambat berbicara, lambat murka”.(yak.1:19)
Perhatikan. Kadang-kadang, kamu mungkin merasa bahwa orang tuamu tidak menyampaikan nasihat dengan ramah. Namun ketimbang terus memikirkan cara mereka berbicara kepadamu, perhatikan apa yg mereka katakan. Tanyai diri sendiri, 'Bagian mana dari omelan itu yg benar? Apakah aku pernah mendengar orang tuaku mengeluh soal ini sebelumnya? Apa ruginya kalau aku mengikuti kemauan mereka? Ingat, walaupun pada waktu itu kelihatan sangat keras, orang tuamu di motivasi oleh kasih. Jika mereka benar2 mencintai mu, mereka tidak akan membencimu, mereka tidak akan mendisiplin kamu sama sekali. - amsal 13:24
Ulangi. Jika kamu dengan penuh respek mengulangi nasihat orang tuamu dengan kata2 sendiri, kamu membuat mereka yakin bahwa kamu mendengarkan kata2 mereka. Misalnya, ibumu mungkin mengatakan, “kamarmu selalu berantakan. Kalau tidak kamu bereskan, kamu dihukum!” padahal, menurutmu, kamarmu sudah rapi. Tetapi, jika kamu mengatakan bahwa kamarmu sudah rapi, itu tidak ada gunanya. Coba lihat dari sudut pandang orang tuamu. Lebih baik kamu mengatakan, tanpa menyindir, seperti ini, “oh, iya,ya. Kamarku memang berantakan. Mama mau aku membereskannya sekarang atau nanti setelah makan?” jika kamu mengakui keprihatinan orang tuamu dengan cara itu, ketegangan kemungkinan besar akan mereda. Tentu saja, setelah itu kamu harus melakukan apa yg mereka minta. - efesus 6:1.
Tunggu. Jangan membela diri dulu sampai kamu mengikuti kemauan orang tua mu. ”orang yg menahan bibirnya bertindak bijaksana” kata alkitab.(amsal 10:19) Begitu orang tuamu melihat bahwa kamu benar2 mendengarkan mereka, mereka akan jauh lebih rela untuk mendengarkan kamu.
Mengapa Upayamu Tidak Sia-Sia
Apakah kamu rela bersusah-susah sedikit demi menemukan emas? Nah, Alkitab mengatakan bahwa hikmat jauh lebih bernilai daripada harta.(Amsal 3:13,14) bagaimana caranya agar kamu menjadi berhikmat? Amsal 19:20 mengatakan,”dengarkanlah nasihat dan terimalah disiplin, agar engkau menjadi berhikmat di masa depan mu.” Memang, nasihat dan disiplin bisa jadi tidak menyenangkan. Tetapi, jika kamu menemukan dan menerapkan butir2 hikmat dalam setiap kritik. Kamu akan memperoleh harta yg bernilai dari emas.

